Study kasus mis-alignment

Posted on January 5, 2009
Filed Under Alignment |

Jika mesin dijalankan dalam kondisi tidak alignment alias misalignment. Mengakibatkan :

1. Gesekan antara shaft dengan bearing berlebihan
2. Gesekan shaft dengan packing atau mechenical seal berlebihan
3. Gesekan bagian kopling juga berlebihan.
Semua gesekan tsb menimbulkan panas, dan tentu  memerlukan tenaga tambahan sekitar 0,50% - 0,70 %  yang berarti tenaga listrik yang diperlukan bertambah.

 Perhitungan kerugian
Sebuah pemetaan kerugian akibat misalignment digambarkan sbb :
Kerugian akibat pemakaian tenaga listrik
Jumlah mesin di pabrik                    : 250 unit
Kapasitas mesin rata2                    : 50 kW
Jam operasi/pertahun                     : 8.640 jam
Total tenaga listrik yang dikonsumsi  : 108.000.000 kWh
Jika tambah tenaga akibat misalgnment : 0,60%
Maka Total kerugian listrik               : 648,000 kWh
Harga listrik per kWh misal               : Rp 1.000,-
Total biaya kerugian / tahun            : Rp 648.000.000,-

Jumlah mesin di pabrik                     : 250 unit
Biaya perbaikan                              : Rp 15.000.000,-
MTBF sekarang                              : 9 bulan
MTBF yang diinginkan                      : 12 bulan
Biaya sekarang                               : Rp 5 milyar
Biaya perkiraan nanti ( MTBF naik)     : Rp 3,75 milyar
Keuntungan karena MTBA naik           : Rp 1,25 milyar

Jadi perkiraan penghematan/keuntungan dengan contoh diatas sangat mencengangkan. Inipun belum dihitung kerugian akibat tidak dapat berproduksi. Mungkin juga ada mesin yang rusak sebelum waktunya, berapa beaya penggantian atau perbaikan? Mungkin kita juga kehilangan kesempatan, atau kehilangan kepercayaan akibat tidak bisa men-supply secara tepat waktu dan kontinu.
(ini adalah ilustrasi betapa pentingnya alignment mesin rotasi)

Comments

Leave a Reply




  • Soemarno Adibroto
    Lahir di Blora 20 September 1947

    Dulu pada th 1972 ketika saya mulai bekerja pada umur muda 24 th di bagian maintenance sebagai supervisor, sulit bagi saya untuk melakukan pekerjaan dengan baik. karena sangat langka bahkan tidak ada buku atau referensi. Sehingga kadang kita tidak tahu berbuat apa yang seharusnya. Maka mulailah mencari sendiri2 pengalaman2 baru berdasar logika dan naluri untuk memperbaiki kebiasaan2 lama. Sejalan dengan waktu maka berkembanglah system atau, Tatacara Maintenance (Maintenance Mangement). Mengingat kesulitan saat itu menjadi pemula bekerja sebagai orang maintenance, maka saya ingin menuliskan apa yang bisa saya tulis terutama untuk para pemula, bagi yang ingin menulis juga sangat di harapkan bergabung, bagi yang ingin diskusi/tanya-jawab yang monggo.
    Semoga bermanfaat.